Sep 25, 2007
Ganti lever 31

UMUR berapakah saya sekarang?

Tepatnya saya tidak tahu. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini.

Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Ditulis dengan kapur lunak, diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Baju kami, sekeluarga, tidak lebih dari sepuluh.

Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas, piring seng untuk makan, cobek (mangkuk terbuat dari tanah), dan leper (tempat mengulek sambal, terbuat dari tanah), dan sebangsanya. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada.

Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. Tidak ada kursi atau meja makan. Kami makan sambil duduk di lantai. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Kalau mau makan, barulah dihamparkan tikar. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. Di atas tikar itu juga kami tidur.

Paginya, ketika tikar dilipat, sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Jangan gusar. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Dari segi ini, lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Kalau musim hujan, gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya.

Sejak masih ngompol, saya sudah harus bisa menyapu lantai. Tiap pagi, itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Karena lantai itu akan menimbulkan debu, sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. Meski akan menghabiskan air lebih banyak, tapi bisa mengurangi rasa malu.

Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini), apa pun dijual. Sawah warisan yang hanya secuil, alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan, dan juga lemari satu-satunya itu. Maka, pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya.

Di desa, orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. Karena itu, bapak ingat saya lahir Selasa Legi. Tapi, Selasa Legi yang tanggal berapa, bulan berapa, tidak ingat. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun?

Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. Pakai selamatan dan tahlilan. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan.

Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya, itu dilakukan setiap 35 hari sekali. Misalnya, setiap Selasa Legi. Tapi, keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Kami keluarga santri. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang), salatnya pakai doa kunut, wiridannya pakai tahlil, nyekar ke kuburan, salat id tidak mau di lapangan.

Namun, kami juga ikut Kejawen: Bersih desa, wayangan Murwad Kolo. Anehnya, aliran tarikat kami Syatariyah, bukan Naqsyabandiyah. Kalau bulan Syura, kami selamatan Rebo Wekasan, yang aslinya milik aliran Syiah. Pada selamatan ini, kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Ke dalamnya dimasukkan rajah -kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet, entah apa bunyinya.

Setelah kenduri, kami antre minum airnya. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein, putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah, yang berarti cucu Rasulullah.

Lebih aneh lagi, aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Bahkan, saya ingat, gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965, sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser.

Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. "Lihat dia dari keluarga Masyumi," kata seorang tokoh. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. "Dia tahlil," kata yang lain. Saya sendiri tidak peduli, saya ini orang apa. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. Lagi pula, kini, suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair.

Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. Para panglima perangnya melarikan diri, antara lain ke timur, ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin.

Karena saya dari jalur wanita, ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Ibu harus ikut bapak saya. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu, tapi kemudian kawin dengan ibu saya. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa, 6 km dari pusat keluarga itu. Jadi keluarga tani, kemudian jatuh ke buruh tani.

Sampai tamat SMA, saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. Hidup di desa, waktu itu, tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan, jawabnya tegas: Selasa Legi. Tapi, bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi?

"Waktu itu," kata bapak saya sambil berpikir keras, "ada hujan abu yang sangat hebat." Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan.

Tentu, saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. Bagi saya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Tanpa dukungan surat kenal lahir. Tapi sudah diakui di banyak negara. Buktinya, saya tidak dianggap memalsukannya.

Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. Bapak saya kemudian menyebut, ketika Gunung Kelud meletus, saya sudah mulai bisa merangkak!

Kini, setelah ganti liver, kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Badan saya berumur 56 tahun, tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masing-masing diberi bobot dan nilai? Lalu, bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan?

Untuk apa juga saya pikirkan. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Untunglah, saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. Titik.

Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi "keluarga besar Dahlan Iskan". Dan, rasanya bisa. Sampai 1,5 bulan setelah ganti hati ini, kondisi saya terus saja membaik. Semua parameter darah normal. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat.

Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. Kini, begitu habis makan, langsung berkeringat. Juga setelah sedikit senam atau joging. Saya memang harus banyak senam, terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi.

Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Jadi tulang-tulang iga ikut bergerak ke dalam, berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. Antara hati dan tulang iga, secara alamiah, memang tidak boleh ada ruang kosong. Ketika hati mengecil, tulang iga menyesuaikannya.

Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan, "Hampir tidak ada kesulitan apa pun". Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil.

Akibatnya, ketika dokter mau "memasang" liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama, ruangnya agak terasa kesempitan. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. Sesak. Liver baru masih dalam ukuran normal, bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa "bernafas" dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. (bersambung

Posted at 11:08 pm by ama

ria
April 29, 2009   08:52 AM PDT
 
bapak adalah salah satu sosok yang telah menjadi inspirator dan motivator hidup saya setelah saya membaca buku yang menceritakan tentang anda, saya ingin tau benarkah bapak berasal dari Pacitan?karena saya juga berasal dari Pacitan Pak...
Name ayke
November 30, 2008   09:59 AM PST
 
ass..salam kanal pak,
Ternyata kt sm pak,gak tau scr jls ,asal usul
Tp,tgl lhr aku pasti 6 agustus
Ya mmg gak gt penting tp darah yg mengalir..debaran didada ttp ada u tau tmpt asal
Doa sy bapak sehat dan bahagia
Yg yakin gak ada hati yg ter hilang,terpotong,krn hati yg sebelah entah kemana
Matur suwun pak,0
ivan
October 15, 2008   06:27 PM PDT
 
dahlan iskan : sumber inspirasi
djoko widodo
April 7, 2008   01:03 PM PDT
 
Umur saya 49 tahun dan saya saat ini menderita sirosis hati, ketahuan pada tahun 2002.
Senang saya mendengar suara anda dalam acara KickAndy.
Lebih senang jika seandainya pak Dahlan dapat menerima saya untuk mengetahui lebih jauh bahaya sirosis hati.
HP saya 081 30 3333 59
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry

<< September 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed