Sep 19, 2007
Ganti lever 23

Senin, 17 September 2007
Pengalaman Pribadi CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (23)

Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung

Oleh Dahlan Iskan

SAYA hampir kehilangan momentum. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat, meski belum fatal. Sebulan setelah saya menunggu, keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. Tapi, mestinya, saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu.

Pasien asing banyak yang gelisah. Dulu-dulunya, waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada, sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. Tapi, ternyata terhalang aturan baru itu.

Saya memutuskan sabar menunggu. Tapi, setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor, saya ingin pulang dulu dua hari. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi.

Sebagaimana juga di Kaltim, saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya, mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak.

Untuk menunjukkan keseriusan, saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. Namun, beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu, tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat.

Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Dan lagi, saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar, sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. Provinsi itu sangat kasihan. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik.

Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Tapi, pemenang tendernya, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. Jelek sekali nasib Kalbar. Juga nasib (tanah) saya. Memang, suatu ketika, kira-kira dua tahun lalu, peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Tentu saja tidak. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU.

Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Tapi, setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar.

Karena itu, saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. Yakni, mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancur-hancuran di musim panen. Proyek itu harus berjalan. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting.

Saat saya menyelesaikan urusan Kalbar itulah, sebenarnya ada donor yang potensial. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. Tapi, saya sudah di atas pesawat. Tapi, beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya.

Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Yakni, mendatangkan donor dari negaranya. Yakni, donor orang hidup. Mereka mencari salah satu keluarganya, atau sukarelawan, yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi.

Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah, lalu livernya dipotong separo. Pada saat yang sama, si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Setelah itu, potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima.

Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Karena itu, sekali orang kehilangan ginjal, ya sampai meninggal, ginjalnya tetap satu. Beda dengan donor liver. Hari ini separo livernya didonorkan, besok pagi sudah tumbuh lagi. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan, liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali.

Dengan begitu, seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi, dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Seminggu berikutnya dia sudah bisa beraktivitas lagi. Tapi, memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah.

Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan, potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Karena itu, di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas, livernya dibagi dua. Jadi, satu liver untuk dua pasien. Di Tiongkok, umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Termasuk saya.

Menjelang transplantasi, Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya.

’’Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu,’’ kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. ’’Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini,’’ tambahnya.

Anak itu sendiri, yang bahasa Inggrisnya bagus sekali, lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu, mengapa berani, dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. ’’Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm, sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula,” katanya. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan.

Bagaimana dengan penerima livernya? ’’Bapak itu juga mulai baik. Liver saya yang di sana, yang semula hanya 11 cm, hari ini sudah 17 cm,” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali, baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain.

Saya amat yakin dengan jalan itu. Saya juga memutuskan akan melakukannya. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. Kalau saya menunggu terlalu lama, bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. Dan, karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya, sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Saya butuh melangkah cepat.

Mulailah saya melihat ke istri, anak-anak, dan keponakan-keponakan. Ternyata, tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Tapi, jalan tidak buntu. Tanpa kami cari, seseorang dari Jakarta menghubungi kami. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. Umurnya masih 32 tahun. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat.

Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang, dia sudah menghitung risikonya. Mengapa dia begitu berani? Karena, dia bilang, dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan.

Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. Ternyata, dia cukup berada. Rumahnya baru, tidak kecil, di kompleks perumahan yang cukup mewah. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. Handphone-nya pun Communicator seri terbaru. Anak keduanya baru bisa berjalan. Sikap istrinya, di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya.

Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. Tapi, saya sendiri juga masih berpikir, haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati?

Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. Yakni, filsafat ’’intensifikasi umur’’. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif. Sikap ini muncul, barangkali karena saya melihat kok ibu saya, kakak saya, paman-paman saya berumur pendek. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali.

Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Terutama Robert Lai. ’’Dia tidak akan jadi korban. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh,’’ kata Robert. Saya masih keberatan, tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat.

Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah, ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. (Bersambung)


Posted at 04:17 pm by ama
Make a comment  

Ganti lever 22

Minggu, 16 Sept 2007,
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (22)

Oleh : DAHLAN ISKAN

Email: iskan@jawapos.co.id
SMS: 081 331 313 373

Ingin Naikkan Albumin, Berburu Banyak Ikan Kutuk

SETELAH hati mantap melakukan transplantasi, barulah saya menentukan langkah. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Kehebatan dokter, kesediaan donor, dan ketepatan rumah sakitnya. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Tiga faktor itu saya sebut sebagai "persyaratan mutlak". Lalu masih ada sejumlah "persyaratan keinginan". Misalnya, kedekatan dengan Indonesia, kedekatan budaya, dan kedekatan bahasa.

Saya sudah terbiasa, dalam setiap akan mengambil keputusan, menjalankan satu proses yang disebut problem solving. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Hasil perkalian tertinggi, itulah pilihan terbaik. Saya pernah disekolahkan untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO.

Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments" yang saya tentukan. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik, tapi saya tidak peduli.

Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Maka, tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia, Amerika, Jepang, Singapura, Belanda, dan Tiongkok. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Kita pelajari track record-nya. Juga, terutama, umurnya. Saya ingin dokter yang berpengalaman, tapi masih muda. Tangan anak muda, menurut logika saya, akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Saya memang sangat pro anak muda. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang.

Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Penampilannya meyakinkan. Urat-uratnya kukuh, mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Pengalamannya juga luar biasa. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Bahkan, sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak, rekor transplantasi tanpa transfusi darah, rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun), transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. Boleh dikata, dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver.

Tapi, masih ada satu yang meragukan. Padahal, yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. Artinya, mau tidak mau harus dipenuhi. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’, barangkali bisa diabaikan. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya?

Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. Yakni, di satu kota di belahan utara Tiongkok. Untuk Indonesia kota ini tidak populer, tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Berkali-kali saya ke kota itu. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu.

Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Khususnya tower yang baru. Sangat bersih dan terawat. Alat-alatnya juga amat modern. Dan, reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Hati saya mantap sekali.

Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Dan, dia selalu berhasil menjalankan misinya. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. Saya mengenal baik kotanya, mengenal baik budayanya, dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya.

Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin.

Memang, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab, bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Namun, tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Bahkan, karena hampir selalu berbahasa Mandarin, saya sering tidak dianggap orang asing. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Bahwa kulit saya agak hitam, banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya.

Robert juga langsung memesan kamar terbaik, yang ada ruang tamunya, dapurnya, saluran internet-nya. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun, membeli mobil, mencari sopir, pembantu rumah tangga, dan juru masak. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. Masa menunggu tidak bisa ditentukan.

Keluarga saya, dan juga Robert, tinggal di apartemen. Saya tinggal di rumah sakit. Istri saya tidur di ruang tamu. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. Dua kali sehari. Pagi 2 jam, sore 2 jam. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat.

Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Yakni, ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan.

Kalau akhir pekan, saya pamit ke kota lain. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Maksudnya, kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya, tiba-tiba ada donor), saya bisa kembali segera.

Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Karena itu, saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan, sudah lebih siap.

Suatu saat saya ke Kota Dalian, satu jam penerbangan dari kota ini. Di salah satu plaza di sana, ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Saya main squash cukup lama. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali.

Suatu malam saya tidak bisa tidur. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya?

Paginya dia berteriak-teriak lagi. Saya mencoba menengoknya. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Ternyata dia berontak karena ada janji, pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Tapi, ternyata tidak. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Siangnya, saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai.

Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya, tapi tidak diizinkan. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. Mungkin untuk menghemat pulsa, mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia.

Ketika penunggunya lagi pergi, dan melihat saya bisa bicara Arab, dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon.

Tapi, angka-angka itu angka Arab. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. Tapi, setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. Dia mulai kesal dan uring-uringan. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Saya menyarankan agar menambah "nol" di pijitan terakhir. Titik, dalam huruf Arab, berarti nol. Ternyata nyambung. Luar biasa senangnya.

Sambil menunggu dan menunggu, saya terus menjaga kondisi. Badan saya harus sehat. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. "Saya memang tidak sakit. Saya hanya perlu transplantasi liver," gurau saya kepada mereka.

Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya, terutama albumin, tidak terus merosot. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Mulai daging, putih telur sampai ikan. Tapi, meningkatkan albumin luar biasa sulitnya.

Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. Tidak ketemu. Di Tiongkok, yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin, juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Dalam bahasa Inggris dikatakan "ikan kepala ular", karena bentuknya seperti ular yang amat pendek.

Saya menghubungi guru besar Unibraw, Malang, Prof Eddy Suprayitno. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. Setelah penjelasannya meyakinkan, mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk.

Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana, sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia.

Di Tiongkok, peneliti seperti itu jadi kaya raya. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan, sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Sebab, buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun, kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah.

Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Jadi amat berharga. Tapi, karena saya akan tinggal lama di Tiongkok, tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Lalu muncul di pikiran, masak tidak ada kutuk di Tiongkok. Maka saya mencari kutuk di sana. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang, di Nanjing, di Wuhan, di Harbin, di Dalian, di Qingdao, dan seterusnya. Tapi, saya tidak menemukannya.

Di Nanchang, teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Ketika saya ke Nanchang, dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. Bapak teman saya, dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti, menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu.

Saya berterima kasih padanya. Saya mengatakan "benar", itulah ikan yang saya cari. Tapi, sebenarnya bukan. Bentuknya memang persis kutuk, tapi bukan kutuk. "Kutuk Tiongkok" ini lebih hitam. Karena itu, di sana disebut "hei yu" -"hei" artinya hitam, "yu" artinya, Anda bisa menduga sendiri. Kandungan daging "hei yu" tidak sama dengan kutuk di Jawa.

Di Kalimantan lebih lengkap. Kutuk, yang di sana disebut ikan gabus, sangat banyak. "Hei yu" juga banyak. "Hei yu", yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang, juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. Tapi, dagingnya hambar. "Hei yu" di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. Sedangkan ikan gabus yang manis, enak sekali dimasak bumbu bali, dimakan dengan nasi kuning.

Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. Padahal, mempertahankan albumin menjadi amat penting. Dalam keadaan normal, liver bisa memproduksi albumin. Tapi, karena liver saya rusak, sungguh sulit mengatasinya. Akhirnya, agar badan tetap sehat, saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. (bersambung)


Posted at 04:15 pm by ama
Make a comment  

Ganti lever 21

Sabtu, 15 September 2007

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (21)
Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran

Oleh Dahlan Iskan

KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya, sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Juga terhindar dari potong-limpa. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil ’’memingsankan’’ virus hepatitis B saya, tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu ’’tidur nyenyak’’ saja di dalam liver. ’’Bangun’’-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis.

Kalau toh obat itu juga tidak berhasil, masih ada obat lain yang lebih mahal. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). Obat tersebut harus disuntikkan tiap dua hari sekali selama sembilan bulan. Harga obatnya saja, untuk sekali suntik, sekitar Rp 1,1 juta. Selain Octreotide, masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali.

Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obat-obat itu. Tapi, bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang, pasti tergoda untuk mencobanya.

Sayang, saya tahunya sudah sangat terlambat. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Karena itu, meski telat, saya tetap memakai obat-obat tersebut. Setidaknya, bisa membantu saya buying time. Mengolor waktu. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver.

Waktu itu, kata ’’transplantasi’’ sebenarnya masih jauh dari pikiran. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)?

Tapi, saya harus tetap rasional. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. ’’Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ,’’ kata teman saya.

Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis, dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. Kalau sudah kena hepatitis, pasti akan mengarah ke sirosis. Dan kalau sudah sirosis, pasti akan menjadi kanker.

Karena itu, kosa kata ’’transplan’’ sudah mulai masuk di bawah sadar. Meski bentuknya masih pertanyaan ’’masak harus sampai transplan?’’, tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata ’’transplan’’ sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan.

Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang ’’hanya’’), transplantasi masih bisa ditunda. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan, tapi mungkin masih bisa diperlambat.

Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang ’’hanya’’). Sebab, masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya, selain kemoterapi. Yakni, dengan memotong bagian yang terkena kanker, di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization).

Masalahnya, liver saya sudah ’’dikeroyok’’ sirosis dan kanker, sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Misalnya, mau dipotong bagian yang ada kankernya. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. Permukaan liver yang mengeras itu, kalau dipotong, akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan, sekalipun oleh dokter yang paling pintar.

Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Sebab, untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya, dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya beberapa mata kail. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya, sebelum masuk ke sel kanker. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan.

Karena itu, diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. Bedanya, obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi, melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral).

Dengan bantuan fluoroscopy, sejenis sinar rontgen, kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati.

Setelah obat kemonya menembus sasaran, dokter lantas memasukkan lagi obat lain, melalui kateter yang sama, untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. Dengan begitu, diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati.

Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka, sehingga terjadi pendarahan. Kalau itu terjadi, akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha.

Jadi, kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang ’’hanya’’), transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas.

Namun, persoalannya, akibat sirosis itu, bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Bahkan, kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Kalau sampai tahun lalu, yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan, empedu, dan limpa saya. Kalau saya biarkan, barangkali ginjal, selaput perut, jantung, dan paru saya juga segera rusak.

Limpa saya saja sudah membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa.

Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Lama-lama, kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok, limpa bisa pecah: mati. Tidak pecah pun, limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Padahal, darah putih berfungsi, antara lain, menguburkan sel-sel darah merah yang mati. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus ’’dikuburkan’’. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara ’’memakan’’-nya. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa.

Tapi, karena limpa saya terus membesar, sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. Makanya, saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Jadi, ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya.

Karena darah putih yang sangat kurang itu, saya akan sangat gampang terkena virus. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. Saat itu tinggal 60-an. Kalau turun 10 poin lagi, saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. Padahal, saat itu, platelet saya juga terus menurun. Sehingga, sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut, hidung, telinga, bahkan dari lubang kemaluan. Semua itu gara-gara liver yang sirosis.

Ada yang lebih berbahaya lagi. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini, darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). Akhirnya, dinding-dindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. Setiap saat bisa pecah. Misalnya, hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Karena itu, saya pernah takut makan ikan. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan, lalu melukai dan menusuk balon-balon itu. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil.

Jadi, meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis, proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. Kecuali liver saya segera baik. Dan, untuk itu, cuma ada satu jalan: transplantasi liver.

Maka, status kata ’’transplan’’ pun meningkat dalam pikiran saya. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. Lalu, bulatlah tekad saya: ganti liver.

’’Tapi, kalau gagal gimana?’’ tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. ’’Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?’’ tambahnya.

Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Kuat secara psikologis. Bukan secara rasional-teknis-medis.

Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. Bahkan, saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi, mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai, ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah?

Saya bukan ahli psikologi. Juga bukan ahli agama. Tapi, sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan, saya kalahkan. Secara tidak formal, saya memang membentuk dua tim. Satu yang punya pendapat jangan transplan. Satunya lagi yang pro-transplan. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan.

Tim yang pro-transplan mengemukakan, memang transplantasi Cak Nur gagal. Tapi, penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi.

Tapi, bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. Artinya, mungkin telanjur sangat parah. Kita tidak tahu pastinya. Dan ’’kubu anti-transplan’’ di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal.

’’Pak Dahlan pun, kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver), mungkin juga akan lebih sulit,’’ kata pro-transplan. Atau, kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. Atau, ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). Atau, ketika membran selaput dada sudah kena infeksi.

Tapi, kubu ’’anti-transplan’’ di tim saya masih punya alasan lain. ’’Katakanlah transplantasinya berhasil. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?’’ katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan.

Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi?

’’Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. Seperti kata dokter di Singapura itu. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?’’ tanya tim yang anti-transplan.

Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. Lalu, ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun, mengapa harus berjudi dengan transplan?

Sebagai dewan juri yang harus adil, saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. Sampai mau terlempar dari kanvas. Tapi, tali ring menyelamatkannya: Tapi, apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo, di-TACE, keluar-masuk rumah sakit, tidak bisa makan enak, tidak bisa bekerja dengan baik? ’’Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?’’ serang tim pro-transplan tiba-tiba.

Kedua tim masih akan terus bertinju. Tapi, bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO.

’’Saya mantap dengan transplan,’’ kata saya.

Semua diam. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. ’’Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap, juga tidak boleh. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. Begitu pasien ragu-ragu, kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal,’’ katanya.

’’Ya. Saya mantap transplan. Dengan segala risikonya,’’ kata saya. (Bersambung)


Posted at 04:12 pm by ama
Make a comment  

Ganti lever 20

Pengalaman Pribadi CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (20)

Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya


ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa, memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Apalagi, suhu badan saya, pada hari-hari pertama, naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Tapi, semua bisa diatasi. Seminggu kemudian, suhu badan saya kembali normal dan stabil. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. Juga lebih lama: seminggu penuh.

Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. ’’Sudah lima hari saya belum pulang. Saya tidur di rumah sakit, di kantor saya. Menunggui Anda,’’ ujar dr Shao. ’’Sekarang Anda sudah stabil. Saya mau istirahat,’’ pamitnya. Penampilannya memang agak lecek. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar.

Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata, kini ganti saya yang amat terharu. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. Saya juga tabik tak henti-hentinya. Tabik dengan cara Tiongkok. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. Begitu besar perhatiannya. Begitu tinggi tanggung jawabnya.

Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. Kebalikannya, perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup, itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. ’’Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang,’’ kata saya dalam hati.

Tiga hari setelah libur, barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. Wajahnya masih tidak terlalu cerah, seperti orang sakit. Matanya yang biasanya tajam, kali ini agak memerah. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. Tahu sedang saya perhatikan, dia merasa risi. ’’Dua hari saya flu,’’ katanya segera. ’’Semua gara-gara Anda,’’ tambahnya.

Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. Ternyata saya telah menyiksanya. Rupanya, begitu kondisi saya stabil, ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang.

’’Jadi, tiga hari di rumah tidak bisa menikmati,’’ katanya seperti ingin bergurau. Guraunya selalu ringan-ringan saja. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya.

Tiga minggu kemudian, badan saya sudah terasa enak. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. Tapi, saya harus pulang. Ini soal kebakaran rumah memang, tapi yang terbakar rumah sendiri, bukan rumah tetangga.

Pagi-pagi Guo Qiang, anak saudara angkat saya Mr Guo, saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu.

Surat itu saya mulai dengan pujian. ’’Mungkin, Andalah dokter terbaik di muka bumi ini,’’ tulis saya di pembukaan surat. Setengah memuji, setengah memompa dadanya. ’’Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?’’ saya menunjukkan fakta. Saya tidak mengada-ada, meski fakta itu memang saya pakai merayu.

Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. Lalu minta maaf. Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. Yakni, memasukkan kalimat-kalimat merendah, tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu.

Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. Wajahnya merah serius. Langkahnya cepat. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. Pagi itu, yang mestinya melakukan kegiatan rutin, langsung diubah untuk menemui saya. Dari ekspresi wajah dan body language-nya, Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ’memperkosa’-nya.

Bertatapan dengan saya, dia tidak langsung berkata-kata. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah, kesal, dan gondok bercampur jadi satu. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. Lama dia tidak berkata-kata. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Setelah menarik napas panjang, barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. ’’Sudah saya duga,’’ katanya.

’’Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?’’ kata saya memecah kebekuan. Lalu saya menunjukkan hasil lab. ’’HB saya 13, SGPT-OT saya mendekati normal, Plt saya sudah 120, tekanan darah juga normal,’’ kata saya.

Prof Shao seperti kian gondok. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. ’’Semua itu benar,’’ jawabnya. ’’Tapi, ada satu data yang saya sembunyikan. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Padahal, seharusnya di bawah 100 saja,’’ katanya.

Saya terpojok. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. Bahkan, saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Kami terdiam lama. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Melihat itu, dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu kepadanya. Mata saya juga mulai berlinang. Saya dalam posisi sulit. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu.

Maka, saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam, tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. Dia tahu saya tidak pura-pura. Saya sudah hampir menubruk kakinya. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. Dia menahan tangis. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Demikian juga istri saya.

Lalu Prof Shao menarik napas panjang. ’’Ya, sudah. Tidak bisa dicegah. Saya akan izinkan. Tapi, obat yang saya siapkan nanti harus diminum,’’ katanya melemah. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata.

Besok paginya, dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya, ternyata saya belum prima. Saya harus lebih hati-hati.

***

Kian hari kondisi saya kian baik. HBV-DNA saya juga menurun drastis. Seminggu kemudian sudah menjadi 1,5 juta. Sebulan kemudian sudah normal.

Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Juga sudah terhindar dari ancaman tiba-tiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. Apalagi, sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. Yakni, mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya.

Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. Sakit saya sudah terlewat parah. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu, buying-time. Tapi, setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi. (Bersambung)


Posted at 04:11 pm by ama
Make a comment  

Ganti lever 19

Pengalaman Pribadi CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (19)
Waktunya Tiba, ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah

SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin, Tiongkok, tentang rencana pemotongan limpa saya?

’’Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet, memang OK,’’ katanya. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus, ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Dan masih akan turun terus.

’’Setiap orang tidak sama,’’ jawab dr Shao. ’’Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan,’’ tambahnya. ’’Tapi, ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50,’’ katanya lagi. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? ’’Tidak bisa diperkirakan begitu. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya,’’ katanya. ’’Perhatikan saja lubang hidung Anda. Atau telinga. Atau kalau sedang sikat gigi,’’ tambahnya.

Meski setuju platelet saya harus dinaikkan, dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. ’’Dibuang saja sekalian,’’ ujarnya. Uh! Dalam istilah medis, pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy.

Mendengar kata ’’limpa dipotong’’ saja, saya sudah tidak senang. Ini malah disuruh membuang. ’’Tidak apa-apa. Orang bisa hidup tanpa limpa,’’ tambah dokter di Singapura itu. Memang, orang bisa hidup tanpa limpa. Tetapi, kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. Fungsi limpanya bagaimana? ’’Diganti obat,’’ jawabnya.

Pemotongan limpa, menurut dokter Singapura itu, sangat berbahaya. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. Yakni, infeksi di selaput dada, infeksi di tempat limpa dipotong. ’’Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. Sudah lebih 15 tahun,’’ katanya. ’’Membuang limpa sama sekali malah lebih safe,’’ tambahnya.

Penjelasannya, meski singkat, sangat masuk akal. Saya bisa menerima sepenuhnya. Tapi, saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Tidak mungkin, rasanya. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. Nanti, dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi, saya akan menemui Prof Shao untuk ’menguji’-nya. Itu, tentu, kalau masih sempat.

***

Saya memang harus ke Tiongkok lagi. Ada beberapa urusan. Urusan Jawa Pos sendiri, urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim, urusan perusahaan daerah Kaltim, dan urusan menepati janji. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak.

Sudah lama saya gemas, mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Terakhir, pada 2005, sudah berada di bawah satu juta barel per hari. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC.

Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. Padahal, sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. Tapi, semangat untuk menggalinya luar biasa. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak.

Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Maka, saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Di bandara kota itu pukul 24.00, yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai.

Paginya saya masih di kota Tianjin, untuk bertemu Prof Shao. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. ’’Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Di sana cara itu sudah dianggap kuno,’’ kata saya. ’’Siapa bilang itu kuno?’’ sergahnya. Suaranya meninggi. ’’Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Itu cara 60 tahun yang lalu,’’ katanya.

Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan, dia tidak mengelak. ’’Tentu saya tahu. Tapi, juga tahu cara menghindarinya,’’’ katanya. Jawabannya tegas, mantap, dan percaya diri. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. Dua-duanya masuk akal. Dua-duanya bisa diterima secara medis. Ini soal pilihan. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan.

Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? ’’Sudah banyak kali,’’ katanya. ’’Banyak itu berapa? Berapa puluh?’’ tanya saya lagi. ’’Sudah lebih dari 500,’’ jawabnya mantap. Ya, sudah. Saya pilih dipotong saja. Biar berkurang, tapi masih ada sisanya. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua, jangan dibuang semua.

Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Tapi, sore itu saya harus ke Dalian, karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. ’’Saya minta izin ke Dalian dulu. Rumah besar saya, Indonesia, akan terbakar,’’ gurau saya kepada Prof Shao. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Menarik panjang napasnya.

Tiba di Dalian sudah agak malam. Sudah waktunya makan malam. Saat makan malam itulah saya kaget. Ketika saya menggigit pisang, sisa pisang itu berlumur darah! ’’This is the time! Wo de shi jian dao le. Tibalah sudah waktu saya,’’ kata saya dalam hati. Saya menundukkan kepala sesaat. Memikirkan apa yang harus saya perbuat.

Saya lari ke toilet. Berkumur. Merah airnya. Berkumur lagi dan berkumur lagi. Ah, hilang merahnya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi, tidak ada darahnya.

Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas, saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia, dan karena itu saya antusias membantunya.

Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. Malamnya terbang ke kota Harbin. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Dirjen serius sekali melihat semua itu. ’’Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak,’’ katanya. Malam hari balik lagi ke Harbin. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya.

’’Lakukan sekarang!’’ kata saya begitu bertemu Prof Shao.

’’Apa?’’ tanyanya.

’’Potong saja limpa saya,’’ kata saya.

’’Mengapa?’’ tanyanya lagi, kali ini seperti tidak percaya. Juga gondoknya kepada saya meningkat. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. ’’Wo bu guan ni,’’ katanya.

Tapi, saya tahu dia baik. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya.

’’Tidak bisa sekarang. Harus ada persetujuan istri Anda,’’ katanya.

’’Saya bisa usahakan sekarang,’’ tegas saya.

Saya lantas menelepon istri saya. ’’Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah, tanda tangani saja. Formulirnya dalam bahasa Mandarin, kita nggak tahu maksudnya,’’ kata saya. Istri saya tidak bertanya banyak. ’’Saya akan operasi kecil,’’ kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya.

Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Yakni, untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Setelah ditandatangani istri saya, dikirim balik ke Tianjin.

’’Ini persetujuan istri saya,’’ kata saya.

’’Ini apa?’’ tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok.

’’Itu tanda tangan istri saya. Bentuknya tidak penting. Tapi, doa di balik tekenan itu yang penting,’’ kata saya ingin setengah memuji istri saya, setengah melucu.

Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Saya lupa kalau dia komunis, yang tidak tahu apa itu doa.

Dengan datangnya persetujuan istri saya, saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu, atau besoknya. Ternyata harus tiga hari kemudian. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. Hari itu baru selesai. Dan, saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Jadi, tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. Harus 8 Oktober.

Padahal, saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Lalu, sebagaimana dijelaskan Prof Shao, sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. Setelah operasi, 8 jam saya tidak boleh bergerak. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit.

Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Maksud saya, tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal.

Namun, dengan mundurnya tanggal operasi, waktu recovery saya tidak cukup. Itulah sebabnya, saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. Hari itu, ketika saya di panggung, seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin. (Bersambung)


Posted at 04:05 pm by ama
Comments (2)  

Ganti lever 18

Pengalaman Pribadi CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (18)
Dokter Menegur Iba, Terkenang Ayahnya yang Redaktur

BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya.

Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. ’’Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel.

’’Saya baru datang dari Indonesia,’’ jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. ’’Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?’’ ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali.

’’Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,’’ katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya.

Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.

Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. Apalagi dari hasil pemeriksaan total, dia lihat masih ada sedikit peluang. Hasil ’’laminating’’ yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. ’’Laminating’’ itu kurang lebih bisa bertahan setahun. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi, masih bisa ’’dilaminating’’ sekali lagi.

Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). Di negara lain, termasuk Indonesia, digunakan standar minimal 150.000. Normalnya 150.000 sampai 400.000 per milimeter kubik darah.

Melihat rendahnya kadar platelet saya, Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Tapi, caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua–tiga hari. Setelah itu, platelet akan turun lagi.

’’Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda,’’ katanya. Limpa saya harus dipotong? ’’Boleh dibilang begitu. Namanya diembolisasi,’’ ujarnya.

Dipotong seberapa banyak? ’’Sekarang, limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu,’’ katanya.

’’Limpa dipotong?’’ kata saya dalam hati. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya.

Mengapa limpa harus dikecilkan?

Limpa adalah organ kecil –yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita– di bawah iga kiri. Tugasnya melawan infeksi, memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu, serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah. Yang disebut sampah di pembuluh darah, antara lain, adalah sel-sel darah yang rusak.

Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu, aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. Akibatnya, darah mengalir balik ke limpa. Untuk menampung limpahan itu, limpa lantas ’’membesarkan diri’’. Makin banyak darah yang harus ditampung, semakin besar pula ukuran limpa.

Karena jumlahnya di luar batas normal, limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan. Itu berarti sel-sel darah yang ”sehat” pun ikut disingkirkan.

Bagi limpa, luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. Sebab, jika tidak dihancurkan, sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. Tapi, jika dihancurkan semua, darah akan kekurangan sel darah merah, darah putih, dan platelet yang ”sehat”. Padahal, orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). Kalau kekurangan darah putih, orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian.

Oh, ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya, bukan hanya kadar platelet saya yang turun. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah, Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya.

Ini memang bukan langkah permanen. Sebab, selama liver saya sirosis, darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana, termasuk ke limpa. Artinya, setelah dipotong pun, kelak limpa membesar lagi? Ya. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. Kalau tahap itu sudah terjadi, limpa saya masih bisa dipotong lagi, sekali lagi.

Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Kalau salah satu saluran itu dimatikan, limpa akan mati sepertiga. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah, yang akan dilakukan Prof Shao. Kelak, kalau limpa sudah membesar lagi, masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. Tapi, dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun.

Saya tetap minta waktu memikirkannya. Saya kembali ke Indonesia lagi agar, antara lain, bisa mampir ke Singapura. Saya ingin mendapatkan opini pembanding.

Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. Pemadaman terjadi bergilir. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati, mereka harus menyalakan lilin.

Nah, lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. Untuk menghasilkan satu watt, diperlukan biaya Rp 2.000-an. Padahal, rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. Kalau tarif listrik dinaikkan, yang terjadi adalah demo. Jadi, sejak sebelum matahari terbit pun, PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1.250 per watt.

Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya, tapi juga energi saya. Dan, yang utama lagi memakan batin saya. Meski tujuannya begitu hebat, logikanya begitu baik, dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba), proses perizinannya ternyata sangat panjang, melelahkan, dan menjengkelkan. Dua tahun baru beres. Padahal, saya kenal direksi PLN-nya, kenal menteri-menteri di bidangnya, kenal wakil presiden, dan bahkan presidennya. Memang, saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang.

Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. Di atas pesawat, Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Ini bukan karena saya mengadu, tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. ’’Ini harus selesai. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini, bagaimana yang lain?’’ katanya. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Di dalam pesawat yang berada 36.000 kaki di atas permukaan laut.

’’Urusan kecil begini kok panjang sekali, ya,’’ kata saya kepada Chairul Tanjung. Sebagian karena malu, sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya.

’’Ini memang rusan kecil bagi Anda. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol, siapa yang mau masuk jadi investor listrik,’’ kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. ’’Saya saja tidak mau. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai,’’ tambahnya.

Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. Ini besar bagi saya, terutama risikonya. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya. Memang, saya akan dicatat sebagai penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Namun, bisa jadi, kepala saya juga pecah ketika membenturnya. Tembok tersebut terlalu tebal.

Memang ada juga salah saya. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. Kalau proyek tersebut berhasil, kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. (Bersambung)


Posted at 04:03 pm by ama
Make a comment  

Ganti lever 17

Pengalaman Pribadi CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (17)
Dokter Mengetuk Dada, Timbul Bunyi seperti Tong Kosong

SAYA pernah membenci kaus kaki. Setiap pulang dari bepergian, selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. Besar atas bawahnya, dekok di tengahnya. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak, maka tidak gampang baliknya.

Pernah saya merasa penat. Yakni, saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil, namun istimewa. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin, bos Hotel J.W. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin, Shanghai. Semua masakannya terbuat dari kepiting. Mulai supnya, makanan kecilnya, sampai makanan penutupnya. Enaknya luar biasa.

Pulang makan, saya mampir ke kios pijat kaki. Setelah melepas kaus kaki saya, si ahli refleksi kaget. ’’Karet kaus kakimu terlalu kuat. Lihat. Sampai membuat kakimu seperti ini,’’ katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. Dia pun, seperti saya, ternyata juga menyalahkan kaus kaki.

Padahal, yang salah adalah kakinya. Tepatnya, yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Bahkan, kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. Tapi juga tetap memerlukannya. Sebab, kalau tidak pakai kaus kaki, perut saya langsung kembung.

Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate –cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri.

Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya.

Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. ’’Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,’’ katanya. ’’Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,’’ tambahnya.

Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu.

’’Lihat ini,’’ kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). ’’Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,’’ ujarnya.

Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan.

Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia.

Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya.

Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. ’’Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,’’ katanya.

Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan ’’bocor’’ dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites.

Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins.

Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya.

Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu.

’’Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,’’ kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time.

Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjur-ginjur, dan akhirnya mengeras.

Pada awalnya, saya agak terhibur dengan ’’pil pelancar kencing’’. Tapi, lama-lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam.

Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda –beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok.

Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. ’’Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu,’’ ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja.

Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. ’’Wah, saya harus mengajar berapa jam?’’ tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. ’’Satu jam 10.000 yuan ya?’’ guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut.

Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. ’’Ini tidak ada obatnya,’’ katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. ’’Kecuali istirahat total,’’ tambahnya. ’’Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,’’ ujarnya.

Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya ’’mengejar’’ pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tiga–empat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu.

Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain.

’’Ibaratnya,” kata Prof Shao, ’’Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli.’’ Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk ”mahasiswa”-nya yang amat bodoh. (Bersambung)


Posted at 04:02 pm by ama
Comment (1)  

Ganti lever 16

Pengalaman Pribadi Menjalani Operasi Transpalntasi Liver (16)
Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating

Oleh Dahlan Iskan

Iskan@jawapos.co.id

------------------------


KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung, dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan. Saya dibius. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH, yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu.

Dari tenggorokan, alat itu masuk sampai ke lambung saya, melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung).

Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat, betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. Ada yang kecil, banyak juga yang besar. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. Dalam istilah medis, pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. Disebut varises karena memang mirip varises di betis.

Hanya, karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis, varises di bagian itu lebih gampang meletus, pecah. Jika itu terjadi, pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Akibatnya bisa sangat fatal. Yakni, pasien meninggal karena kehabisan darah.

Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. Karena pintu masuknya menyempit, tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. Karena tak segera diturunkan, tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat.

Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu, saya termasuk orang yang beruntung. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan.

’’Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. Dalam kesempatan pertama,’’ ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. ’’Lebih baik dilakukan di sana,’’ tambahnya.

Sampai saat itu, saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. Maklum, rasa badan saya baik-baik saja. Baru dua minggu kemudian, ketika ada acara di Singapura, saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. Saya diperiksa di situ untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. Padahal, operasinya perlu waktu dua jam sendiri.

Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif, saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. Sebelum operasi, saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. Saya memang biasa begitu. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan urusan saya pribadi. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah, saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan.

Minggu depannya, selesai rapat, saya ke rumah sakit. Langsung dibius dan dioperasi. Sekali lagi, tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. Seperti pada endoskopi, ujung alat itu pun dilengkapi kamera.

Dengan bantuan kamera itu, tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus, sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. Dengan begitu, ketika meletus, darahnya tidak semburat ke luar lagi.

Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. Saya hanya menyederhanakannya. Bahkan, kepada keluarga saya, saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya ’’dilaminating”.

Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak, proses ’’laminating”-nya tak bisa hanya sekali. Dan, hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar, yang sudah meletus dan benar-benar siap meletus. Selain itu, kalau yang ”dilaminating” kebanyakan, beban bagi tubuh saya akan terlalu berat.

Dengan hanya ”melaminating” yang besar-besar, dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Untuk memastikan itu, saya diminta kembali dua bulan kemudian.

Sesuai jadwal, dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Rapat lagi sambil meneruskan proses ”laminating” berikutnya. Meski yang kecil-kecil tidak membesar, dokter memilih yang aman. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa ’’dilaminating’’ semua. Hari itu, persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. Tepatnya, teratasi sementara.

Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi, bengkak lagi, dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. Berarti setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. Tapi, dengan ’’laminating’’ ini, setidaknya saya bisa mengulur waktu.

Bulan berikutnya, ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura, saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya, Robert Lai, lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris, untuk melihat, mencermati, dan memberikan koreksi mana-mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. Dia memberikan banyak sekali koreksi. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. Dia melakukannya secara gratis. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu.

Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya.

Misalnya, bagaimana mengatasi sirosis saya. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi.

Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. ’’Bagaimana mengatasinya?’’ tanya saya.

Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. ’’Beli saja sepatu yang lebih besar,’’ katanya ketus.

’’Kalau sesak lagi?’’ tanya saya lagi.

’’Ya, beli lagi yang lebih besar lagi!’’ jawabnya, enteng.

Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Tapi, saya merenungkannya. Getir jawaban itu, tapi saya kunyah lama-lama. Semakin dikunyah, memang semakin pahit rasanya. Seperti pahitnya butrawali, buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. Dan beli lagi yang lebih besar lagi.

Begitu pahitnya kalimat dokter itu, membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. Merah rupanya, merah rasanya. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya, Dahlan, tidak ada obatnya!

***

Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau, dalam bahasa orang awam, apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi?

Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. Juga tidak mau bertele-tele. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. Dokter melemparkan jawaban pendek, langsung, tajam. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. Menghunjam dalam sekali. Lalu menyayat-nyayatnya. Berdarah-darah. Pedih. ’’Anda lakukan transplantasi saja. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi,’’ katanya. ’’Sekarang Anda berumur 55 tahun. Tambah lima tahun menjadi 60. Cukuplah,’’ katanya.

OK. Lima tahun lagi, Dahlan, kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. Tidak boleh lebih. Bisa sampai umur 60 cukuplah. OK.

Tapi, ’’Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?’’ tanya dokter itu pada saya. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Saya sudah oke. Tambah lima tahun sudah oke. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali. Tapi, dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi, dan akan jadi sirosis lagi. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya, bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru.

Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Padahal, sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. Berarti juga, dua-duanya tidak ada jalan keluar. Tidak ada obatnya. Tidak ada alternatifnya. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan.

***

Dokter itu tidak kenal saya. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. Mungkin karena itu, di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos.

Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Saya tidak terlalu memikirkannya. Apalagi, ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi.

Karena badan normal-normal saja, saya juga hidup normal lagi. Artinya sibuk lagi, terbang-terbang lagi. Hanya saya lebih care dibanding dulu. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. Dua minggu sekali, setiap akan membuka hasil lab, perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. Pelan-pelan, sedikit-sedikit, takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus. (Bersambung)


Posted at 03:59 pm by ama
Make a comment  

Ganti lever 15

Setelah Rutin Disuntik, Menyangka Hepatitis Sudah Beres

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (15)

SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker, itu sebagai sunnatullah-Nya -sudah seharusnya begitu. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. Dan, jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. Tidak ada keajaiban di proses itu. Tidak ada mukjizat. Tinggal waktu saja yang berbeda. Proses perkembangan itu lama atau cepat.

Karena namanya virus, pasti datangnya dari luar. Jadi, bukan keturunan atau gen, seperti yang semula saya kira. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian, tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Makan bersama, berebut lauk dari piring yang sama, cuci tangan dari kobokan yang sama. Semua bisa saja jadi sarana penularan. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil, kemungkinan penularannya juga tidak kecil.

Di Tiongkok, data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. Di Indonesia, persentasenya saya kira hampir sama. Karena itu, penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok, karena menyangkut begitu banyak orang.

Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Di Tiongkok sejak 1982. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru.

***

Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Yakni, ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. Maka saya harus periksa darah. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. Sebelumnya, sejak kecil, kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri.

Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Namanya interveron. Kalau mau, saya boleh mencoba obat baru itu, karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu.

Tapi, Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali, setiap dua hari sekali. Kini interveron sudah amat murah dibanding harga 25 tahun lalu. Tapi, Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen, baru 25 persen. Ya, siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu, katanya.

Saya pun menyetujuinya. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. Mengapa harus ngamar? "Akibat suntikan itu, suhu badan bisa tinggi sekali. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan, Anda sudah berada di rumah sakit," katanya.

Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya, melainkan hanya mengurungnya. Maksudnya, dengan dikurung seperti itu, virus tidak akan merajalela. Sebab, memang belum ada obat ang bisa membunuhnya.

Pada hari dilakukan penyuntikan pertama, saya langsung siap-siap selimut tebal. Kalau panas datang dan badan menggigil, saya sudah tidak bingung lagi. Saya tunggu kedatangan "suhu tinggi" dan "rasa menggigil" itu sampai sore. Tangan sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. Saya tunggu sampai malam, ternyata si demam tidak datang juga. Bahkan sampai besoknya pun.

Lalu saya boleh pulang. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. Bisa di kantor, di poliklinik, atau di praktik dokter. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya.

Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. Tentu saya bawa juga interveron itu. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Sudah saya jelaskan panjang lebar, tetap saja dia tidak mau. Memang seharusnya demikian. Kalau tidak tahu, tidak boleh melakukannya. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau, tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Maklum, memang obat yang masih sangat baru.

Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. Padahal, saya juga harus mengejar pesawat. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam.

Setelah proses itu selesai, saya menjadi lengah. Saya menyangka, hepatitis saya sudah beres. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri.

Kini, saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-besaran. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. Murah untuk ukuran orang sakit liver, tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang.

Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu. Bahkan, saya sudah melupakan hepatitis saya. Badan saya yang selalu fit, membuat saya terlalu percaya diri. Pujian bahwa saya adalah orang yang "tidak punya udel" (tidak punya pusar, untuk menggambarkan punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. Saya terus kerja dan kerja. Terbang dan terbang. Di dalam negeri dan ke luar negeri.

Sampailah pada Mei 2005. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-Nanchang-Guangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya.

Istri saya, bersama Ibu Eric Samola, bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Tiba di Ambon tidak mau sarapan, langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. Durian Ambon luar biasa enaknya. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat, keluar dari bandara, jangan belok kanan ke arah kota, tapi belok kiri ke arah kampung. Aduh naturalnya!

Tapi, rapat masih diteruskan dengan mengajar. Dulu, setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. Saya memang punya forum yang disebut "bengkel wartawan". Di forum "bengkel" itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Berarti makan siang juga kelewatan.

Selesai forum bengkel, sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. Kebetulan di depan kantor, di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah, banyak penjual durian. Kenyanglah. Lupa sudah makan siang. Malamnya, setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda, saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing, Tiongkok.

Mestinya, saya jangan makan papeda malam itu. Mestinya tetap saja makan ikan laut. Ikan laut Ambon segarnya, manisnya, enaknya, bukan kepalang. Saya selalu merindukannya. Tapi, sejak kerusuhan Ambon, saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha.

Perut saya mulai bergolak malam itu. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. Lalu menyantet perut saya. Meski perut mulas, tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. Paginya, pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari, rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang.

Tiba di Surabaya, barulah saya bisa tidur dengan baik. Bangun tidur, tiba-tiba saya mau muntah. Saya muntahkan saja, tapi kedua tangan saya menjadi penadah. Sambil tangan menampung muntahan, saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Setelah onggokan itu saya injak, ternyata warnanya merah: darah. Oh, ternyata saya muntah darah.

Tapi, badan saya rasanya baik-baik saja. Saya memang merencanakan ke dokter, tapi besoklah. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. Anak buah saya, Pimred Jawa Pos Arif Afandi, menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D.H. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah.

Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. Perkembangan hasil pilkada itu, di mana Bambang-Arief terpilih, saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien.

Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Dokter menyesalkan saya, mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. Dokter bilang saya beruntung. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Juga ibu saya. Paman-paman saya.

Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. Bahaya yang selalu kalah dengan semangat. Dalam istilah teman saya, penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya.

Ternyata semua itu menipu. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. Sebuah kerusakan di dalam, yang tidak segera diketahui di luarnya. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali. (bersambung)


Posted at 03:58 pm by ama
Make a comment  

Ganti lever 14

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (14)

Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan

JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi,
saya menderita sakit liver. Apakah saya menyesali dilahirkan di
keluarga miskin? Sama sekali tidak. Kemiskinan kami adalah kemiskinan
struktural. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan
saya. Bahkan hampir di semua kampung saya. Di kapupaten saya. Juga di
negara saya. Kemiskinan rame-rame. Kami bisa menikmatinya bersama-sama.


Jadi, jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita.
Tidak. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk
mabuk-mabukan atau untuk narkoba. Kami memang tidak punya harta.

Kalau toh kami boros, kurang hemat, itu pun jangan disalahkan.
Keborosan kami adalah "keborosan-religius". Juga
"keborosan-yang-beradab", yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat.

Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran, kupatan,
mauludan, rejeban, megengan, rebowekasan, dan seterusnya, tapi semua
itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan
segala. Kami sangat menyenangi selamatan. Terutama saat kami masih
kecil. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. Bukan gaplek. Itulah
saatnya kami bisa makan telur. Bukan hanya sambal atau garam. Itulah
saatnya kami, kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-, bisa
memperebutkan daging ayam secuil. Satu bentuk selamatan di serambi
masjid yang amat kami tunggu-tunggu. Karena itu, kami hafal benar
kapan akan ada mauludan atau megengan. Bahkan sudah kami nantikan
sejak berhari-hari sebelumnya.

Kami juga harus slametan nyepasari, mitoni, sunatan, wetonan, dan
seterusnya. Tapi, itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon
(doa yang dipersonifikasikan). Karena itu, harus ada sayur kluwih
untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). Juga
harus ada cakar ayam untuk lambang doa kuat melangkah. Pokoknya, semua
kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu.

Setiap kupatan, kami juga harus munjung ke kiai kami. Sesepuh kami.
Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. Ibu membuat
lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. Agar
lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. Daun
pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. Sayurnya
harus lima macam, salah satunya harus opor ayam. Ibu pandai sekali
bikin opor ayam. Tapi, kami hanya boleh makan sedikit kuahnya.
Dagingnya untuk punjungan. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam
bulan sebelum kupatan. Tentu, kami tidak mungkin mampu membeli ayam.
Sering ibu harus membeli dulu satu telur. Lalu dititipkan ke tetangga
untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Lalu dipeliharanlah ayam
tunggal itu. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan
kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya.

Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. Kiai kami bukan sembarang
kiai. Kiai kami adalah guru-tarikat kami. Guru yang oleh bapak
dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. Tidak ada
ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. "Ahl-dzikr hanya
satu di dunia," kata bapak saya. Ini karena menurut tata bahasa Arab
(nahwu), kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad).
Ternyata, semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai
mereka sendiri. Tapi, bapak saya tidak tahu itu. Tahunya ya hanya
tasawuf Sathariyah. Dan meyakini bahwa kiainya, KH Imam Mursyid
Muttaqien, adalah sang "ahl dzikr" nan tunggal.

Misalnya saja, bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di
rumah kiai tersebut. Tentu, bapak bicara seenaknya dan penuh guyon
dengan tamunya. Tapi, begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu
diutus sang kiai, sikap bapak otomatis berubah. Bapak akan langsung
bersila, menunduk, dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem
itu. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa
level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Bapak langsung
merasa sedang berhadapan dengan kiainya sendiri. Bapak adalah idola
kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh.

Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum
itu. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah
sesepuh kami itu. Di jalan, kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan
yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya.
Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri, kami dilarang untuk
masuk sampai ke dalam rumahnya. Kami hanya boleh mengantar sampai
teras samping rumah pendapa itu.

Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan
mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya
itu.

Saya, waktu kecil, memang hanya punya satu celana pendek dan satu
baju, tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan
sarung ini. Dia bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari
rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan, sampai jadi alat memeras
atau menakut-nakuti.

Sarung inilah pakaian yang, meski hanya satu potong kain, fleksibelnya
bukan main. Kalau saya lagi mencuci baju, sarung itu bisa saya
kemulkan di bagian atas badan saya. Kalau saya lagi harus mencuci
celana, sarung itu bisa jadi bawahan.

Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya, sarung itu bisa jadi karung.

Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali
mendalang, dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut
teman-teman), sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri
kanannya: jadilah dia kelir.

Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu,
sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar.

Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan, saya ikat
ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit.

Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama
sekali, saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia
pengganjal perut yang andal.

Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi
sarung. Kalau sembahyang, jadilah dia benda penting menghadap Tuhan.
Kalau lagi kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau lagi mau
nakut-nakuti anak kecil, jadilah dia pocongan.

Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur
kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu), sarung itu
masih bisa dijahit. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi, masih bisa
ditambal. Kalau tambalannya pun sudah robek, sarung itu belum akan
pensiun. Masih bisa dirobek-robek: bagian yang besar bisa untuk sarung
bantal, bagian yang kecil untuk popok bayi.

Sakit bisa dinikmati. Miskin pun bisa dinikmati. Apalagi suasananya
sering diciptakan demikian. Misalnya saja, kisah tentang bagaimana
Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena
lapar. Untuk meredam tangis si anak, ibunya pura-pura merebus sesuatu.
Padahal, yang direbus itu adalah batu. Cerita yang demikian jadi
kebanggaan. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau
lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. Atau bagaimana nabi hanya
memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. Lapar itu sering
luar biasa nikmatnya.

Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya,
seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya.
Kadang, orang kaya merasa iba kepada orang miskin. Padahal, sering
juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. Banyak orang desa
yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus
menderita. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya.

Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya. Jangankan terkena
kanker atau sirosis atau hepatitis. Mati pun dianggap, kalau memang
sudah garisnya, harus diterima apa adanya. Karena itu, ayat yang
menyatakan "kalau sudah tiba waktunya, tidak bisa diundur sekejap pun
atau dimajukan sedikit pun" menjadi amat populer. Melebihi popularitas
ayat yang mengajarkan "carilah rezeki di bumi Tuhan ini".

Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. Sangat
sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Menyingkirkan
duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. Bahkan, tersenyum
pun sudah sedekah. Maka, marilah kita sering tersenyum. Mau dioperasi
besar pun saya tersenyum. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil
diajarkan -dan yang dulu satu-satunya yang mampu kami lakukan.
(Bersambung)


Posted at 03:53 pm by ama
Comments (5)  

Previous Page Next Page

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed